Minggu, 24 Maret 2024

Catatan Hasil Lokakarya Orientasi

Pelaksanaan Lokakarya Orientasi Kab. Klaten di laksanakan pada Hari Sabtu,  Tanggal 23 Maret 2024. Lokasi lokakarya Orientasi bertempat di SMKN 3 Klaten, Jl. Merbabu No. 11, Gayamprit, Klaten Selatan. Acara Lokakarya orientasi ini berlangsung lancar dan sukses.

 

Peserta

Sasaran pelaksanaan pendampingan lokakarya orientasi program PGP adalah unsur-unsur yang terkait dengan pelaksanaan pendampingan lokakarya orientasi adalah sebagai berikut:

1.      3 orang PP yang tergabung di kelas K sebagai fasilitator (C. Suparni, Lilis Rubianti, dan

Sari Warsiyah)

2.      18 orang CGP tergabung di kelas K sebagai peserta

3.      BBGP Provinsi Jateng sebagai penyelenggara

4.      Pokja PGP Dinas Pendidikan

No

Nama

Jabatan

Satuan kerja

Keterangan

 1.

TIMUR

Tim monitoring dan evaluasi

BBGP Jawa Tengah

 

Hadir sampai selesai

2.

SUROYO

Panitia

Disdik Kab. Klaten

Hadir sampai selesai

3.

C. SUPARNI

PP

TK WIDYA MULIA II

Hadir sampai selesai

4.

LILIS RUBIANTI

PP

TK ABA DUWET II

Hadir sampai selesai

5.

SARI WARSIYAH

PP

TK PERTIWI JOGOSETRAN

Hadir sampai selesai

6

DESY RISKA MARTYASSANTI

CGP

SD NEGERI 2 LOGEDE

Hadir sampai selesai

7

ELI WAHYU YUNI ESTI

CGP

TK PERTIWI TLOGO

Hadir sampai selesai

8

KERI LINA ILI FAUZI

CGP

TK PERTIWI BUGISAN

Hadir sampai selesai

9

NURROCHMAN AHMADI

CGP

SD NEGERI 3 GUMUL

Hadir sampai selesai

10

RONA ALL AISYAH

CGP

SD NEGERI 1 KARANGNONGKO

Hadir sampai selesai

11

YASTARIA DWI UNTARI

CGP

SD NEGERI 1 SOMOKATON

Hadir sampai selesai

12

ARIF ISNAINI MUSTIKANINGRUM

CGP

TKIT AN NAJAH JATINOM

Hadir sampai selesai

13

ARVIANTI ERI EKOWATI

CGP

TK PERTIWI JANTI

Hadir sampai selesai

14

ASRI ROFI'AH

CGP

TK PERTIWI BONO

Hadir sampai selesai

15

NONIK ARSANA

CGP

SD NEGERI 2 NGAWEN

Hadir sampai selesai

16

SRI HANDAYANI

CGP

TKIT AN NAJAH

Hadir sampai selesai

17

SRIYANTI

CGP

TK PERTIWI NGALAS

Hadir sampai selesai

18

DWI RATMINI

CGP

TK DARUSSALAM

Hadir sampai selesai

19

FEBRI KUSUMANINGTYAS

CGP

SD NEGERI 6 JIMBUNG

Hadir sampai selesai

20

GENDA WIDAYATI

CGP

SD NEGERI 1 KALIKOTES

Hadir sampai selesai

21

MUHAMMAD ILMI ARDI

CGP

SD NEGERI 3 JOGOSETRAN

Hadir sampai selesai

22

NOVIA TRI PURNAMASARI

CGP

SD N 1 TAMBONGWETAN

Hadir sampai selesai

23

WINDA FESTIANA DEWI

CGP

SD NEGERI 1 WONOSARI

Hadir sampai selesai


Aktivitas Pembelajaran

Kegiatan Lokakarya Orientasi PGP Angkatan 10 Kabupaten Klaten dibagi dalam 7 sesi yaitu:

1.      Pembukaan

2.      Perkenalan Calon Guru Penggerak dan Tim Pendukung

3.      Pemetaan harapan dan kekhawatiran

4.      Perjalanan Guru Penggerak

5.      Posisi Diri

6.      Membuat Rencana Pengembangan Diri

7.      Pengenalan Portofolio Digital

 

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan upacara pembukaan pada pukul 08.00 WIB yang dihadiri oleh Kepala BBGP Jawa Tengah Bapak Darmadi S.Pd., M.Pd. dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Klaten Ibu Titin Windiyarsih, S.Pd., M.Pd..

Setelah itu CGP, Kepala sekolah, Pengawas Sekolah dan PP memasuki kelas masing-masing. Sesi Pembukaan di buka oleh Ibu C. Suparni dengan berdoa menurut agama dan kepercayaan masing masing, selanjutnya melaksanakan ice breaking dengan bermain menggambar benda sebagai Simbol Diri. Kemudian dibawah panduan Ibu Lilis Rubianti di lanjutkan dengan berkenalan dengan PP dan antar CGP. Lalu di lanjutkan dengan penjelasan tujuan dan pembuatan kesepakatan belajar.

Dalam sesi pemetaan harapan dan kekhawatiran, Identifikasi Strategi PP memberikan penjelasan mengenai cara pengisiannya. Secara berturut turut antara ke tiga PP memandu tentang Perjalanan Calon Guru Penggerak dan membuat kesepakatan peran Guru dan Kepala Sekolah. Kegiatan pada sesi ini berakhir pada pukul 12.00 WIB di lanjutkan dengan istirahat sampai pukul 12.30 WIB.Sebelum Kepala Sekolah dan Pengawas pulang kita melakukan foto bersama.



Selanjutnya sesi kedua adalah inti ( Posisi diri, Rencana Pengembanagan diri ) di mulai pada pukul 12.30 WIB dan  yang di pandu Ibu Sari Warsiyah yang sebelumya di awali dengan Ice Breaking dari CGP untuk mencairkan suasana.. Pada kegiatan ini peserta menulis identifikasi posisi diri (asesmen kompetensi CGP LK 2), Evaluasi kompetensi diri  LK 3 dan Membuat rencana pengembangan diri LK 4. Selanjutnya Berbagi hasil rencana pengembangan diri dengan rekan CGP lain.

Pada pukul 14.20 WIB lanjut dipandu Ibu Sari Warsiyah di lanjutkan dengan Pengenalan Portofolio Digital dan juga ada simulasi praktik cara membuatnya. Karena ini merupakan hal baru CGP sangat antusias dan karena keterbatasan waktu, maka pada PI 1 akan dijelaskan lebih lanjut atau peserta akan belajar dengan pemberian tutorial.

Kemudian di sesi terakhir adalah penutup. CGP melakukan Refleksi diri :

“apa saja yang telah bapak/ibu pelajari pada sesi lokakarya ini?”

“apa saja  bapak/ibu yang akan lakukan dalam 6 bulan kedepan dalam menghadapi kendala- kendala yang ada?”

CGP mengungkapkan didepan kelas tentang refleksi mereka secara bergantian.

Yang terakhir kegiatan di tutup pada pukul 15.15 WIB dengan berdoa bersama dan di lanjutkan dengan foto bersama.


Produk yang dihasilkan


1. Kesepakatan kelas
2. Lembar kerja kesepakatan peran CGP dan KS
3. Lembar asesmen mandiri kompetensi GP
4. Lembar evaluasi diri GP
5. Lembar kerja Rencana pengembangan kompetensi diri CGP

Ketercapaian tujuan belajar

Kegiatan lokakarya Orientasi ini dapat berjalan dengan lancar dan berhasil karena indikator ketercapaian dapat tercapai, yaitu :

1. Calon Guru Penggerak dapat mengidentifikasi dan menceritakan harapan, kekhawatiran selama program berlangsung

2. Calon Guru Penggerak dapat mengidentifikasi tantangan yang akan dihadapi dan dukungan yang bisa didapatkan

3. Calon Guru Penggerak dapat menuliskan rencana pengembangan kompetensi diri


Kesimpulan dan Refleksi pembelajaran

CGP selama mengikuti kegiatan lokakarya orientasi ini, rata-rata CGP merasa senang mengikuti kegiatan ini karena banyak sekali pelajaran ilmu yang mereka dapatkan, mereka juga sangat senang sekali dengan Pengajar Praktik yang selalu memberikan motivasi dan dukungan kepada CGP agar dalam menyelesaikan program ini sampai selesai tidak berhenti ditengah perjalanan dan secara umum seluruh tujuan pembelajaran telah tercapai yaitu telah meningkatkan pemahaman CGP terhadap Program dan alur perjalanan guru penggerak, memetakan harapan dan kekhawatiran, memahami posisi diri dan membuat rencana pengembangan diri, menyadari pentingnya portofolio digital. CGP merasa sangat antusias dalam mengikuti kegiatan ini sampai tidak terasa waktu lokakarya sudah selesai.

Rabu, 01 November 2023

Koneksi Antar Materi Pendidikan Yang Memerdekakan



Pendidikan Yang Memerdekakan yang dikemukakakan oleh Ki Hadjar Dewantara jika dikoneksikan dengan materi sebelumnya, dalam hal yang sudah selaras dengan praktik prinsip pendidikan yang memerdekakan dan hal yang tidak selaras terkait praktik prinsip pendidikan yang memerdekakan yang dirasa perlu diubah atau dikembangkan bahkan dihilangkan, dapat diuraikan sebagai berikut:

Hal-hal yang sudah selaras dengan praktik prinsip pendidikan yang memerdekakan.

Hal yang selaras dengan praktik prinsip pendidikan yang memerdekakan adalah ketika guru dapat menuntun murid-muridnya, diantaranya sebagai fasilitator yang bertugas untuk membimbing, mengarahkan dan melatih kemandirian peserta didik dalam mempersiapkan kehidupannya di masyarakat. Kemerdekaan bukan bebas sebebas-bebasnya, melainkan proses menuntun yang didasarkan pada kebahagiaan dan kesenangan murid pada pembelajaran.


  


Pada proses menuntun ini di dasarkan pada kodrat alam dan kodrat zaman murid. Kita menyesuaikan seperti apa karakteristik peserta didik. Kodrat alam murid adalah bermain, sehingga perlu menginternalisasi permainan ke dalam pembelajaran. Kodrat zamannya adalah pada masa revolusi industri sekarang ini, kita tidak bisa lepas dari teknologi. Sehingga anak juga perlu untuk menyesuaikan dengan zamannya untuk dapat menguasai teknologi. 

                                                 

                                                       

Filosofi Ki Hadjar Dewantara anak bukan tabula rasa juga sudah sesuai dengan prinsip pendidikan yang memerdekakan. Di mana prinsip bukan tabula rasa ini bertentangan dengan teori John Lock bahwa setiap manusia yang terlahir merupakan selembar kertas yang putih dan kosong yang bisa kita warnai. Pada teori bukan tabula rasa Ki Hadjar Dewantara meyakini bahwa setiap anak sudah terlahir dengan cipta dan karsa sehingga menimbulkan karya.

Hal-hal yang tidak selaras terkait praktik prinsip pendidikan yang memerdekakan yang dirasa perlu diubah atau dikembangkan bahkan dihilangkan.

Hal-hal yang tidak selaras terkait prinsip pendidikan adalah pendidikan yang memaksa anak untuk mengikuti keinginan guru, seharusnya anak bisa memilih kegiatan yang disukai sesuai minat dan bakatnya. Pembelajaran seharusnya bisa dilakukan dimanasaja dan dengan siapa saja, bahwa siswa belajar tidak hanya dengan guru tapi juga dari praktisi di berbagai bidang. Misalnya bisa belajar langsung di pasar, disawah, dilingkungan sekitar sekolah bisa dijadikan sumber belajar. Atau bisa juga dengan studytour.



Selasa, 31 Oktober 2023

Ekplorasi Konsep-Meramu Hasil Belajar Pendidikan Yang Memerdekakan


Pendidikan diartikan sebagai 'tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak'. Maksud Pendidikan yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Pendidikan itu hanya suatu 'tuntunan' di dalam hidup tumbuhnya anak-anak kita. Artinya bahwa hidup tumbuhnya anak itu terletak di luar kecakapan atau kehendak kita kaum pendidik mereka hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri.

Setelah mempelajari pemikiran-pemikiran Ki Hajar Dewantara, pemikiran yang berubah dari saya adalah bahwa saya harus memberikan tuntunan kepada anak didik dengan lebih sabar dan ikhlas, karena mereka masing-masing unik dan berbeda. Tidak perlu memberikan hukuman yang sifatnya tidak mendidik, memberikan teladan agar mereka bisa melihat dan menirunya. Memberikan pembelajaran yang menyenangkan bagi mereka dengan mencoba berbagai macam model pembelajaran.

Mengenai tujuan transformasi pendidikan berlandaskan filosofi KHD bahwasanya manusia itu perlu untuk dimanusiakan dalam artian memanusiakan manusia. Jika dilihat pendidikan zaman dahulu yang tegas akan tetapi banyak menggunakan hukuman fisik yang belum tentu semua anak itu kuat. Sehingga dengan adanya pendidikan guru penggerak ini maka filosofi menurut KHD akan dapat berjalan sesuai dengan semestinya sesuai dengan perkembangan zaman.

Pendidikan dan pengajaran tidak dapat dipisahkan. Menurut Ki Hajar Dewantara (KHD), pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari Pendidikan. Pengajaran merupakan proses pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan  (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai amggota masyarakat. KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya.

Ki Hajar Dewantara memberikan pemikirannya tentang Dasar-dasar Pendidikan. Menurut KHD, Pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Pendidik itu  hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak.

Peran Pendidik diibaratkan seorang Petani atau tukang kebun yang tugasnya adalah merawat sesuai kebutuhan dari tanaman-tanamannya itu agar tumbuh dan berbuah dengan baik, tentu saja beda jenis tanaman beda perlakuanya. Artinya bahwa kita seorang pendidik harus bisa melayani segala bentuk  kebutuhan metode belajar siswa yang berbeda-beda (berorientasi pada anak). Kita harus bisa memberikan kebebasan kepada anak untuk mengembangkan ide, berfikir kreatif, mengembangkan bakat/minat siswa (merdeka belajar), tapi kebebasan itu bukan berarti kebebasan mutlak, perlu  tuntunan dan arahan dari guru supaya anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya.

KHD juga mengingatkan para pendidik untuk tetap terbuka dan mengikuti perkembangan zaman yang ada namun tidak semua yang baru itu baik, jadi perlu diselaraskan dulu. Indonesia juga memiliki potensi-potensi kultural yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar. KHD menjelaskan bahwa dasar pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan isi dan irama. Artinya bahwa setiap anak sudah membawa sifat atau karakternya masing-masing, jadi sebagai guru kita tidak bisa menghapus sifat dasar tadi, yang bisa dilakukan adalah menunjukan dan membimbing mereka agar muncul sifat-sifat baiknya sehingga menutupi/mengaburkan sifat-sifat jeleknya.

Kodrat zaman bisa diartikan bahwa kita sebagai guru harus membekali keterampilan kepada siswa sesuai zamannya agar mereka bisa hidup, berkarya dan menyesuaikan diri. Dalam konteks pembelajaran sekarang, ya kita harus bekali siswa dengan kecakapan Abad 21. Budi pekerti juga harus menjadi bagian tak terpisahkan dari pendidikan dan pengajaran yang kita lakukan sebagai guru. Guru harus senantiasa memberikan teladan yang baik bagi siswa-siswanya dalam mengembangkan budi pekerti. Kita juga bisa melakukan kegiatan-kegiatan pembiasaan di sekolah untuk menanamkan nilai-nilai budi pekerti/akhlak mulia kepada anak.

Dalam pembelajaran di kelas hendaknya kita juga harus memperhatikan kodrati anak yang masih suka bermain. Lihatlah ketika anak-anak sedang bermain pasti yang mereka rasakan adalah ‘kegembiraan’ dan itu membuat suatu kesan yang membekas di hati dan pikirannya. Hendaknya guru juga memasukan unsur permainan dalam pembelajaran agar siswa senang dan tidak mudah bosan. Apalagi menggunakan permainan-permainan tradisional yang ada, selain menyampaikan pembelajaran melalui permainan , kita juga mendidik dan mengajak anak untuk melestarikan kebudayaan.

Hal terpenting yang harus dilakukan seorang guru adalah menghormati dan memperlakukan anak dengan sebaik-baiknya sesuai kodratnya, melayani mereka dengan setulus hati, memberikan teladan (ing ngarso sung tulodho), membangun semangat (ing madyo mangun karso) dan memberikan dorongan (tut wuri handayani) bagi tumbuh kembangnya anak. Menuntun mereka menjadi pribadi yang terampil, berakhlak mulia dan bijaksana sehingga mereka akan mencapai kebahagiaan dan keselamatan.

Teori tabula rasa mengemukakan bahwa seorang anak yang baru lahir dapat diumpamakan ibarat selembar kertas putih yang kosong (a sheet ot white paper avoid of all characters). Sejak lahir, anak tersebut sama sekali tidak mempunyai bakat dan pembawaan. Seorang anak dapat dibentuk sekehendak kekuatan pendidiknya. Pendidik dan lingkungan paling berkuasa atas pembentukan anak tersebut. seorang manusia muncul dari sebuah pengalaman (empiri) yang masuk melalui alat inderanya.

Pemahaman tentang Pendidikan yang Memerdekakan menurut pemikir - pemikir yang selaras dengan pemikiran KHD dan menjadi acuannya (Metode Montessori dan Taman Anak Frobel)

Montessori mementingkan pelajaran panca indra, hingga ujung jari pun dihidupkan rasanya, menghadirkan beberapa alat untuk latihan panca indra dan semua itu bersifat pelajaran. Anak diberi kemerdekaan dengan luas, tetapi permainan tidak dipentingkan.

Frobel juga mendjaikan panca indra sebagai konsentrasi pembelajarannya, tetapi yang diutamakan adlah permainan anakanak, kegembiraan anak, sehingga pelajaran panca indra juga diwujudkan mengjadi barang-barang yang menyenangkan anak. Namun, dalam proses pembelajarannya anak masih diperintah.

Taman Siswa bisa dikatakan memakai kedua metode tersebut, akan tetapi pelajaran panca indera dan permainan anak itu tidak terpisah, yaitu dianggap satu. Sebab, dalam Taman Siswa terdapat kepercayaan bahwa dalam segala tingkah laku dan segala kehidupan anak-anak tersebut sudah diisi Sang Maha Among (Pemelihara) dengan segala alat-alat yang bersifat mendidik si anak.

Kaitan filosofi dan prinsip pendidikan yang memerdekakan dengan tujuan pendidikan untuk membentuk profil Pelajar Pancasila. Kaitan filosofis dan prinsip pendidikan yang memerdekakan dengan tujuan pendidikan untuk membentuk profil pelajar pancasila adalah dengan menerapkan metode-metode yang tepat serta pendekatan-pendekatan yang tepat sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya serta menyesuaika gaya belajar dan karakteristik peserta didik maka tujuan pendidikan untuk membentuk peserta didik yang memiliki profil pelajar pancasila akan tercapai.

 



Senin, 18 April 2022

Aksi Nyata Modul 3.3 Pengelolaan Program Yang Berdampak Pada Murid

 

“PROGRAM MENANAM TOGA DAN WARUNG HIDUP”

  

Disusun oleh:

Sari Warsiyah, S.Pd.

TK Pertiwi Jogosetran

CGP Angkatan 3 Kabupaten Klaten

 

Fasilitator : Kresniwiyati, S.Pd, M.Pd.

Pengajar Praktik: Marlinda Astulia Khairiah , S.Pd.

 

 

A. Peristiwa (Fact)

1. Latar Belakang

    Penanaman tanaman obat-obatan dan sayuran disekitar lahan kosong sekolah sebagai salah satu usaha memperindang sekolah agar menjadi indah dan asri. Lahan yang tadinya hanya ditumbuhi rumput liar, sekarang menjadi lebih bermanfaat. Tanaman obat yang tumbuh di sekitar sekolah tanpa kita sadari ternyata bermanfaat dan dapat berfungsi sebagai obat. Dalam situasi pandemi, kesehatan sangatlah mahal harganya. Pemanfaatan tanaman obat keluarga sebagai obat-obatan tradisonal sebenarnya sudah ada sejak zaman nenek moyang. Pemanfaatan tanaman sebagai obat dilakukan secara sederhana, yaitu dengan cara ditumbuk, diseduh ataupun direbus. Masyarakat menggunakan tradisi pengobatan untuk mengatasi beberapa masalah kesehatan yang ringan seperti mengurangi penyakit flu, batuk, demam, gatal-gatal, sakit perut dan digunakan meningkatkan imunitas tubuh dibuat jamu atau minuman.

    Tanaman sayuran disekolah dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran murid dari menanam, memanen hingga memasaknya.    Melalui program penanaman Toga dan Warung Hidup di sekolah dapat melatih salah satu life skill yaitu ketrampilan hidup sehat. Melalui program tersebut murid diperkenalkan dengan budaya cinta lingkungan dan peduli kesehatan diri. Serta dapat memotivasi kewirausahaan pada murid. Untuk itu program Toga dan Warung Hidup merupakan sebuah program kokurikuler dan intrakulikuler. Program ini menjadi program kokurikuler agar dapat membantu murid agar bisa mendalami dan menghayati materi salah satu bentuk budidaya tanaman. Kegiatan kokurikuler perlu dilakukan penilaian serta pemantauan agar tujuan bisa tercapai dengan maksimal. 

2. Alasan Kegiatan

        TK Pertiwi Jogosetran memiliki modal lingkungan/alam yaitu halaman sekolah yang luas. Beberapa tempat terdapat lahan kosong seperti lahan dipinggir pagar sekolah yang belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal apabila dimanfaatkan dapat memberikan kemanfaatan yang besar. Lahan kosong biasanya dibiarkan begitu saja sehingga hanya ditumbuhi rumput liar. Hal ini terjadi disebabkan minimnya pengetahuan tentang pemanfaatan lahan kosong.

Lahan Kosong










    Lahan kosong dapat dimanfatkan menjadi lahan untuk menanam tanaman obat dan sayuran ataupun bunga-bunga. Bahkan apabila ditata sedemikian rupa dengan baik agar terlihat indah dan asri. Tanaman obat dapat dikembangkan sehingga dalam kondisi tertentu tidak perlu mendatangi atau sebagai pertolongan pertama sebelum dokter (dapat dimanfaatkan untuk sakit-sakit ringan yang memerlukan penanganan cepat). Dan tanaman sayuran dapat dimasak sebagai pemberian makanan sehat bagi murid.

    Tanaman Obat dan sayuran selain menjadi aset lingkungan akan dapat menambah aset finansial bagi sekolah, selain dapat dijual untuk pendapatan anggaran juga dapat diolah sendiri sehingga mengurangi anggaran keluar. Bahkan kebun tanaman obat dan sayuran sekolah dapat dijadikan sebagai media pembelajaran menyenangkan bagi murid. Murid dapat belajar bagaimana berkebun, mencintai lingkungan, serta menanamkan jiwa gotong royong. Hal inilah yang mendorong CGP untuk membuat rancangan pemanfaatan lahan kosong  menjadi taman Toga dan Warung Hidup. 

3.     Hasil dari Aksi Nyata yang dilakukan

a. Koordinasi dan Sosialisasi Program

        Sebelum melaksanakan Program terlebih dahulu saya melakukan koordinasi dan meminta ijin kepada Kepala Sekolah dan menyampaikan program yang sudah saya rencanakan. Alhamdulillah Kepala Sekolah mengijinkan dan mendukung program yang sudah saya rencanakan. Dan saya juga menyampaikan program saya kepada Bapak Penilik.

Koordinasi dengan Kepala Sekolah dan Penilik


 b. Pembentukan Kelompok Kerja (POKJA)

    Peserta didik kemudian diajak untuk membentuk kelompok dan berdiskusi tanaman obat dan sayur  yang akan ditanam. Disinilah kepemimpinan murid dapat terbentuk dengan mendorong adanya suara (voice), pilihan (choice) dan Kepemilikan (Ownership). Voice (suara) terlihat dengan menanyakan kepada  murid tentang tanaman obat dan sayur yang akan ditanam, berdiskusi agar kebun Toga dan Warung Hidup dapat menjadikan lingkungan tampak indah dan asri.

    Pilihan (Choice) dapat terbangun dengan memberi  kesempatan untuk memilih tanaman obat dan sayur dan hasil panen akan dibuat menjadi produk olahan misalnya racikan jamu, minuman segar, minuman sehat, empon-empons bumbu masak dan lain-lain. Wujud Ownership (Kepemilikan) dalam kepemimpinan murid dimulai dengan mempresentasikan produk yang dihasilkan, bahkan dapat dipromosikan melalui media social. Dari Diskusi ini mereka juga diajak untuk mengembangkan kemandirian, kerapian, kebersihan, kebersamaan dan salin bergotong royong. 

    Saya berharap murid-murid dapat mengikuti kegiatan dengan sungguh- sunggu serta memotivasi murid bahwa negara kita kaya akan tanaman yang bisa dimanfaatkan sebagai obat, bahkan banyak sekali jenis tanaman obat yang ada di sekitar kita. Memberi semangat murid untuk berpartisipasi dalam mengelola lahan sekolah salah satunya dengan menanam tanaman obat dan sayur di sekolah. Saya menunjukkan macam-macam tanaman obat dan sayur serta manfaatnya dalam bentuk vidio pembelajaran.

Menunjukkan vidio tanaman obat dan sayur
 serta membuat kesepakatan kelas
tentang mencintai lingkungan

Setelah melihat Vidio anak memilih tanaman apa saja yang akan ditanam, berikut Tanaman Obat dan Sayuran yang ditanam serta manfaatnya antara lain:

  • Kemangi : mempercepat penyembuhan luka dan mencegah infeksi, mengurangi stres dan kecemasan, mencegah kangker, menjaga kesehatan pencernaan, mengatasi jerawat
  •       Serei : mengobati infeksi mulut dan gigi berlubang, mengobati penyakit kulit, mengurangi peradangan, mengurangi diare, mencegah mual dan sakit perut, mengurangi kolesterol, meredakan sakit kepala, dan mengurangi kembung.
  •       Jahe : meredakan batuk, mengurangi resiko penyakit jantung, mengurangi risiko kanker kolorektal, mencegah diare, meredakan sakit saat menstruasi, menjaga kesehatan mulut, meredakan mual.
  •       Kencur: meningkatkan nafsu makan, menurunkan kolesterol jahat, sumber antioksidan, mengobati batuk, mengurangi kembung, mencegah kangker, melawan bakteri, mengobati diare
  •           Kunyit : meningkatkan daya tahan tubuh, mengobati radang, mengobati maag, mengurangi nyeri saat haid, mengatasi kembung, mengobati alergi, menstabilkan kadar gula darah, menurunkan berat badan
  •       Lidah buaya: mengatasi kulit kering, menurunkan kadar gula darah, meredakan gatal, mengatasi mata bengkak, mengurangi jerawat, mempercepat penyembuhan luka,
  •       Daun 7 jarum : menurunkan tekanan darah tinggi, anti nyeri,menyehatkan rongga mulut, mengatasi asam urat, mengobati perut kembung, pencegah kangker
  •       Sawi : sumber vitamin A, mencegah kangker, mengandung folat, menurunkan resiko jantung, meredakan peradangan, mengandung anti oksidan,
  •       Bayam : mencegah diabetes, mencegah kangker, mencegah stres, menurunkan tekanan darah, menurunkan berat badan, meningkatkan kesehatan mata, meredakan asma.
  •       Cabai : mencegah peradangan, merwat kesehatan mata, menurunkan resiko serangan jantung, sumber energi karbohidrat, meningkatkan imun
  •       Tomat : melawan kolesterol jahat, mencegah obesitas, menjaga penglihatan, memperlancar pencernaan, memperbaiki kesehatan kulit, mengobati radang, menjaga kesehatan jantung.

 

c. Proses Penanaman Toga dan Warung Hidup

  
 Bergotong royong membersihkan lahan

Penyiapan lahan tanam





 





   Penanaman Tanaman Obat dan Sayur



Murid menyusun hasil yang mereka tanam

                                                                             
 Merawat tanaman


d. Evaluasi Kegiatan Penanaman

    Setelah penanaman, murid melakukan refleksi terkait kegiatan yang sudah dilakukan dan refleksi diri terkait dengan pemahamannya terhadap budidaya tanaman obat dan warung hidup telah dibuat dan mengetahui sejauh mana minat murid dalam  mengikuti projek ini. Dari hasil refleksi, mereka sangat gembira dapat mengikuti program ini, berharap kedepan terus dapat melanjutkan program untuk merawat sampai nanti dapat melaksanakan panen.

 

B.  Perasaan (Feeling)

Saya merasa senang membersamai murid-murid melaksanakan kegiatan aksi nyata dalam mewujudkan kepemimpinan murid melalui program kebun toga dan warung hidup dengan memanfaatkan lahan kosong di sekitar sekolah dan saya juga merasa bangga terhadap apa yang mereka lakukan dalam perencanaan proyek. Mereka mengambil peran voice, choice dan ownership.

 

C.  Pembelajaran (Finding)

Dalam aksi nyata pengelolaan program yang berdampak pada murid yaitu menanam Toga dan Warung Hidup memberikan pembelajaran/pengalaman kepada saya untuk mewujudkan :

1) Bagaimana murid menggunakan pola pikir positif saat melakukan penentuan tanaman, pengolahan lahan, perawatan tanaman, dan pengolahan hasil panen. Misalnya, menghargai pendapat yang berbeda saat memilih jenis tanaman, berempati meminjamkan alat kepada teman saat pengelolaan lahan, saling bekerjasama dan melakukannya sepenuh hati saat perawatan lahan dan saat pengelolaan hasil panen nantinya.

2) Mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial secara positif, arif dan bijaksana dengan melakukan pengolahan lahan dan perawatan tanaman dilakukan secara bersama-sama saling bekerjasama, dan sepenuh hati mewujudkan kebun Toga dan Warung Hidup.

3) Melatih keterampilan yang dibutuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun non-akademiknya yaitu melalui program kebun Toga dan Warung Hidup diharapkan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, memiliki budaya bersih dan sehat, serta memiliki pengalaman mengolah lahan, merawat tanaman, dan pengelolaan hasil.

4) Melatih murid untuk menerima dan memahami kekuatan diri, sesama, serta masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. Kegiatan kebun Toga dan Warung Hidup membutuhkan banyak pengetahuan dan keterampilan dalam menyukseskannya. Oleh karena diperlukan kerja sama antar warga kelas, sehingga dapat memotivasi murid untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan diri serta berempati terhadap kelebihan dan kekurangan orang lain.

5)  Membuka wawasan murid agar dapat menentukan dan menindaklanjuti tujuan, harapan atau mimpi yang manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan individu, kelompok, maupun golongan. Program Kebun Toga dan Warung Hidup membuka wawasan murid dalam pengelolaan lingkungan dengan memanfaatkan lahan kosong atau tidak berguna baik di sekolah dan dapat mengembangkannya di rumah.

6) Berkomitmen untuk menempatkan murid sedemikian rupa sehingga aktif menentukan proses belajarnya sendiri. Kegiatan kebun Toga dan Warung Hidup murid terlibat aktif sejak perencanaan (penetuan tanaman, teknik pengelolaan lahan), pelaksanaan (perawatan tanaman), sampai hasil panen nantinya (pengelolaan hasil panen)

7) Menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh murid untuk terus bangkit di tengah kesempitan dan kesulitan. Pada semua tahapan, baik penyiapan lahan, perawatan tanaman, sampai pengelolaan hasil panen kadang muncul hal-hal di luar harapan. Ketangguhan siswa mencari solusi atas tantangan dan sikap pantang menyerah sampai dapat menikmati hasil panen menjadi modal positif saat mereka tumbuh dewasa kelak.

 

D. Penerapan Ke depan (Future)

Rencana Perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang yaitu:

1. Lahan TK Pertiwi Jogosetran masih ada yang belum termanfaatkan sehingga untuk kedepannya dapat mengusulkan sekolah untuk membuat program sejenis untuk memanfaatkan lahan kosong tersebut dengan aneka tanaman obat dan sayuran yang lebih lengkap.

2. Program ini dapat berlanjut dengan cara memasukkan sebagai kegiatan intrakurikuler, sehingga aset yang dimiliki sekolah dapat termanfaatkan dengan baik dan mendorong adanya kepemimpinan murid (voice, Choice dan ownership).

3. Penentuan jadwal piket perlu dilakukan dalam usaha perawatan tanaman sampai pengolahan hasil panen.

4. Hasil panen dapat dibuat produk olahan yang nantinya dapat diperjualbelikan pada kegiatan market day.

 

 

 

 

Sabtu, 26 Maret 2022

Aksi Nyata Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Demonstrasi Kontekstual menjadi awal aksi nyata modul 3.1. Dalam modul yang mempelajari tentang Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran ini, Calon Guru Penggeraknya (CGP) diminta membuat portofolio aksi nyata. Portofolio yang disusun menggunakan metode refleksi 4P, yaitu Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, dan Perubahan.

Berdasarkan rancangan yang telah dibuat, saya pun melakukan serangkaian aksi nyata. Aksi nyata tersebut adalah sebagai berikut:

Peristiwa (facts)

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, kita pasti sering dihadapkan dalam situasi di mana kita diharuskan mengambil sebuah keputusan. Bukan saja dilakukan oleh Kepala Sekolah, melainkan juga warga sekolah lain. Termasuk salah satunya adalah guru. Kenyataan menunjukkan bahwa masih ada guru yang belum memahami perbedaan antara bujukan moral dengan dilema etika. Selain itu, masih banyak juga yang belum memahami tentang langkah-langkah tepat mengambil keputusan. Tidak jarang beberapa keputusan yang diambil belum tepat. Oleh karena itu, memerlukan upaya untuk meningkatkan pemahaman warga sekolah terkait pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Berangkat dari kondisi tersebut, saya pun berusaha menyusun langkah-langkah strategis. 

Langkah-langkah tersebut tertuang dalam rancangan tindakan aksi nyata.

Pertama, koordinasi dengan Kepala Sekolah. 

Sebelum melakukan aksi nyata saya melakukan koordinasi terlebih dahulu dengan penilik dan Kepala Sekolah. Kebetulan Bapak Penilik sedang berkunjung kesekolah kami, sehingga saya dapat berkoordinasi langsung dengan beliau. Selain itu juga untuk mendapatkan dukungan dalam pelaksanaan aksi nyata.

 

Berkoordinasi dengan Penilik dan Kepala Sekolah
untuk menyampaikan materi 3.1 di Komunitas PKG




Kedua, menyusun Rencana Aksi. 

Bagaimanapun juga penyusunan rencana yang baik adalah langkah awal yang baik pelaksanaan kegiatan. Hal ini penting untuk menjamin kegiatan berjalan dengan baik. Hasil aksi nyata ini adalah tersusunnya rencana aksi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Menyusun materi yang akan disampaikan dan memanfaatkan Platform Merdeka Mengajar untuk menganalisis  kasus.

Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

 
Platform Merdeka Mengajar

 
Didalam platform Merdeka Mengajar terdapat beberapa contoh
kasus Bujukan Moral maupun Dilema Etika


Ketiga, Berkolaborasi dengan Komunitas PKG untuk mengimbaskan materi 3.1

Dikecamatan saya terdapat 2 CGP yang berasal dari TK, sehingga saya berkolaborasi dengan Bu Herlin Nur Hayati untuk menyampaikan materi 3.1 dan mengefisiensi waktu. Saya akan memilih beberapa kasus yang sesuaikan dengan kasus nyata yang ada di sekolah. Tujuannya adalah agar materi lebih dekat dan memberikan kemudahan kepada rekan sejawat untuk memahami materi yang saya sampaikan.

Pengimbasan Materi 3.1



Membantu menginstal dan mengakses
Platform Merdeka Mengajar



Perasaan (feelings)

Setelah melakukan aksi nyata modul 3.1. Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran awalnya merasa akan mengalami kesulitan. Terutama dalam membuka komunikasi awal terkait pelaksanaan kegiatan. Namun, berkat kolaborasi aksi nyata pun bisa terlaksana dengan baik. Saat pelaksanaan perasaan lebih lega dan tenang. Hal ini karena sesuai rencana yaitu kolaborasi atau bersamaan dengan kegiatan lain sejenis yang dilaksanakan sejawat untuk efektivitas waktu. Demikian halnya setelah aksi nyata selesai. Perasaan bahagia sekaligus tertantang menjaga dan meningkatkan pemahaman diri dan sejawat terkait pengambilan keputusan.

Pembelajaran (findings)

Banyak pembelajaran baru dalam perubahan yang telah dilakukan. Pembelajaran tersebut terkait dengan diri sendiri maupun orang lain. Salah satu pembelajaran baik bagi diri sendiri, yaitu bahwa awal baik bagi sebuah perubahan adalah kolaborasi. Dari kolaborasi ada pembelajaran tentang menyamakan persepsi dalam menyusun langkah perubahan. Pembelajaran baik lainnya, yaitu terkait kendala dari rencana yang telah disusun. Kendala ada membuat rencana berubah. Oleh karena itu, penting adanya menyiapkan strategi alternatif dalam implementasi aksi nyata. Pembelajaran dari orang lain terutama terkait dengan pentingnya dukungan dari sejawat.

Penerapan ke depan (future)

Perubahan nyata dalam diri, yaitu adanya tekad menguatkan kolaborasi sebagai bentuk dukungan  terhadap sejawat. Hal ini penting kaitannya dengan implementasi aksi perubahan ke depannya. Selain itu, rasa optimis yang meningkat terutama terkait kompetensi diri dalam pengambilan keputusan. Hal ini akan berpengaruh nyata terhadap keputusan yang diambil ke depannya terkait peran sebagai pemimpin pembelajaran. Perubahan lainnya, yaitu semakin meningkatnya komitmen diri untuk melakukan perubahan ke arah kebaikan di sekolah.

Demikian portofolio aksi nyata modul 3.1. Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran ini disusun. Semoga bermanfaat, semoga kita bisa melakukan perubahan dari hal-hal kecil yang dilakukan dapat membawa ke perubahan besar yang lebih baik ke depannya. Aamiin

Guru Bergerak Indonesia Maju!

Catatan Hasil Lokakarya 7 Sari Warsiyah

  Catatan Hasil Lokakarya 7 Nama PP : Sari Warsiyah, S.Pd. Kegiatan Lokakarya 7 PGP Angkatan 7 Kabupaten Klaten Dilaksanakan tanggal 27- 28 ...